
Industri peternakan sapi perah Indonesia memasuki tahap perkembangan baru. Dengan permintaan susu dalam negeri yang diperkirakan meningkat, khususnya melalui program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan produksi susu lokal menjadi salah satu prioritas penting. Pada saat yang sama, pemerintah mulai melihat potensi di luar sentra produksi susu tradisional di Jawa, dengan mendorong pengembangan peternakan sapi perah di berbagai wilayah, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Indonesia Timur. Pergeseran ini dapat menciptakan peluang bagi peternak, investor, dan pemasok ransum, tetapi juga menghadirkan tantangan produksi baru.
Lebih Banyak Lahan, Lebih Banyak Peluang
Di satu sisi, terdapat berbagai peluang yang terbuka. Sektor peternakan sapi perah Indonesia secara historis sangat terkonsentrasi di Jawa. Lebih dari 98% populasi sapi perah di Indonesia berada di pulau tersebut, sehingga peternakan sapi perah di luar Jawa relatif masih terbatas. Oleh karena itu, ekspansi ke wilayah lain dapat membantu Indonesia mendiversifikasi basis produksinya sekaligus memanfaatkan daerah dengan ketersediaan lahan yang lebih luas. Besarnya peluang ini sudah dapat terlihat di Kalimantan[1]. Pemerintah telah mendukung rencana pengembangan peternakan terintegrasi berskala besar, termasuk kawasan pengembangan peternakan seluas sekitar 40.000 hektare di Kalimantan Tengah. Terdapat pula keuntungan logistik dari produksi susu yang lebih dekat dengan lokasi tempat susu tersebut pada akhirnya dikonsumsi. Susu merupakan produk yang sangat mudah rusak, sehingga pengumpulan dan transportasi yang efisien menjadi sangat penting. Dengan demikian, pengembangan sentra peternakan sapi perah yang lebih dekat dengan pusat konsumsi regional yang sedang berkembang dapat memperpendek sebagian rantai pasok dan mendukung distribusi yang lebih efisien.
Namun, Ketersediaan Lahan Tidak Otomatis Berarti Produksi Susu Akan Mudah
Peluangnya memang besar, tetapi memindahkan produksi susu ke luar sentra peternakan yang telah berkembang di Jawa membutuhkan lebih dari sekadar menemukan lahan yang cukup dan mendatangkan sapi. Ketersediaan pakan merupakan pertimbangan mendasar. Iklim tropis Indonesia membuat rumput bisa tumbuh dengan cepat dan menghasilkan bio massa dalam jumlah besar. Namun, kuantitas saja tidak menentukan nilai nutrisi hijauan.
Panduan FAO menunjukkan bahwa rumput tropis yang dibudidayakan umumnya memiliki tingkat kecernaan sekitar 50–65%, dibandingkan dengan 65–80% pada rumput beriklim sedang. Kandungan protein juga menurun dengan cepat seiring pematangan padang rumput tropis[2]. Rumput tropis umumnya memiliki persentase bahan kering yang rendah dan hanya sekitar 7–12% protein kasar, sementara FAO menunjukkan bahwa sapi perah berproduksi tinggi membutuhkan sekitar 15% protein kasar atau lebih dalam ransumnya. Hal ini tidak berarti bahwa hijauan tropis yang diproduksi secara lokal tidak sesuai untuk sapi perah. Hijauan lokal akan tetap memainkan peran penting dalam produksi susu Indonesia. Namun, untuk mencapai tingkat produksi susu yang tinggi dan mempertahankan kesehatan ternak, diperlukan pasokan pakan berkualitas tinggi yang konsisten dengan kandungan protein yang memadai dan nutrisi yang lengkap.
Ketersediaan lahan di luar Jawa memberikan peluang, tetapi karakteristik tanah juga perlu dipertimbangkan ketika menilai potensi pertaniannya. Di sejumlah wilayah yang berpotensi menjadi lokasi ekspansi, termasuk beberapa bagian Sumatra dan Kalimantan, tanah dapat bersifat masam dan memiliki tingkat kesuburan yang rendah sehingga membutuhkan input tambahan untuk mendukung sistem produksi hijauan yang produktif.[3] Pada saat yang sama, lahan di luar Jawa telah menghadapi tekanan dari perkebunan, tanaman pangan, pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan penduduk[4]. Hal ini menjadikan pemanfaatan lahan secara efisien dan perencanaan terpadu sangat penting untuk mendukung ekspansi peternakan sapi perah yang berkelanjutan.

Dalam konteks ini, input ransum yang andal dapat membantu menjaga stabilitas sistem produksi. Pakan ternak dehidrasi Eropa menawarkan kualitas nutrisi yang konsisten dan masa simpan yang panjang, terlepas dari kondisi budi daya setempat. Produk ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada ketersediaan hijauan musiman dan mendukung formulasi ransum yang lebih seimbang. Alih-alih menggantikan sumber pakan lokal, produk ini dapat melengkapinya, khususnya di wilayah peternakan sapi perah baru yang sistem produksi hijaunya masih berkembang atau ketika lahan untuk produksi pakan khusus terbatas.
Kampanye “Pakan Ternak Dehidrasi UE dari Spanyol dan Italia,” yang didanai bersama oleh Uni Eropa dan dipromosikan oleh FILIERA dan AEFA, terus berbagi wawasan mengenai pakan ternak dehidrasi UE berkualitas tinggi, praktik keberlanjutan, dan berbagai kasus penerapan di dunia nyata.
Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pakan ternak dehidrasi UE, silakan kunjungi situs web kami: www.eufodder.com atau hubungi kami melalui email indonesia@eufodder.com, serta ajak rekan-rekan Anda untuk berlangganan buletin kami di https://eufodder.com/id/id-contact-us/.

[1] Indonesia seeks investors for mega cattle farms in Central Kalimantan, ANTARA News, diakses pada Agustus 2026
[2] Future Prospects For Fodder And Pasture Production, FAO, diakses pada Agustus 2026
[3] Utilization and Improvement of Marginal Soils for Agricultural Development in Indonesia, ResearchGate , diakses pada Agustus 2026
[4] Unearthing Agricultural Land Use Dynamics in Indonesia: Between Food Security and Policy Interventions, MDPI, diakses pada Agustus 2026
