
Saat ini, alfalfa merupakan salah satu hijauan terpenting dalam produksi peternakan di Eropa sekaligus menjadi dasar bagi industri pakan ternak dehidrasi yang terspesialisasi dan memasok pakan berkualitas tinggi ke seluruh dunia. Meskipun menjadi bagian penting dalam pertanian modern, alfalfa bukanlah tanaman asli Eropa. Perjalanannya dimulai lebih dari 2.000 tahun yang lalu. [1]
Dari Asia ke Pertanian Eropa
Alfalfa berasal dari Asia Tengah dan Asia Tengah-Selatan dan diyakini telah mencapai Yunani sekitar tahun 490 SM selama invasi Persia. Dari sana, tanaman ini menyebar ke seluruh Italia dan wilayah Eropa lainnya, kemudian mulai dibudidayakan secara luas di Spanyol pada periode abad pertengahan.
Nilainya dengan cepat disadari oleh para petani Eropa karena alfalfa menjadi sumber protein dan serat yang kaya bagi ternak. Seiring waktu, tanaman ini menjadi bagian penting dari rotasi tanaman dan sistem peternakan di berbagai wilayah Eropa yang sesuai untuk budi daya, termasuk Spanyol dan Italia.
Dari Hijauan Tradisional ke Dehidrasi Industri
Selama berabad-abad, alfalfa digunakan dalam kondisi segar atau diawetkan sebagai hay, tetapi metode tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ditujukan untuk transportasi jarak pendek. Pengenalan teknologi dehidrasi mekanis menjadi titik balik. Hijauan segar kini dapat dikeringkan dengan cepat dalam kondisi yang terkendali, menghasilkan produk yang lebih stabil dengan kadar air lebih rendah serta karakteristik penyimpanan dan transportasi yang lebih baik.

Dehidrasi mengubah alfalfa dari tanaman yang digunakan secara lokal menjadi bahan ransum yang dapat diperdagangkan secara global. Pada saat yang sama, fasilitas pengolahan khusus mulai berkembang di seluruh Eropa, didukung oleh meningkatnya investasi dalam teknologi pemanenan, pengeringan, dan pengendalian mutu.
Tonggak penting terjadi pada 1974, ketika Masyarakat Eropa membentuk organisasi pasar bersama untuk pakan kering, yang membantu menata sektor ini dan mendukung pengembangan pasokan yang konsisten dan berkualitas tinggi[2]. Saat ini, industri pakan ternak dehidrasi Eropa mencakup sekitar 160 fasilitas dan menghasilkan sekitar tiga juta ton alfalfa dehidrasi setiap tahun. [3]
Dari Eropa ke Pasar Global
Alfalfa dehidrasi yang diproduksi di Eropa digunakan jauh melampaui wilayah asalnya. Proses dehidrasi memungkinkan hijauan diawetkan, diangkut, dan diintegrasikan ke dalam sistem pemberian ransum modern di seluruh dunia. Bagi produsen susu dan peternakan di pasar seperti Indonesia, pakan ternak dehidrasi Eropa merupakan hasil dari perkembangan pertanian selama berabad-abad yang dipadukan dengan teknologi pengolahan modern. Dari asal-usulnya di Asia hingga perannya dalam rantai pasok ransum global, alfalfa telah menjadi tanaman yang benar-benar mendunia, dengan Eropa sebagai salah satu produsen yang paling terspesialisasi.
Kampanye “Pakan Ternak Dehidrasi UE dari Spanyol dan Italia,” yang didanai bersama oleh Uni Eropa dan dipromosikan oleh FILIERA dan AEFA, terus berbagi wawasan mengenai pakan ternak dehidrasi UE berkualitas tinggi, praktik keberlanjutan, dan berbagai kasus penerapan di dunia nyata.
Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pakan ternak dehidrasi UE, silakan kunjungi situs web kami: www.eufodder.com atau hubungi kami melalui email indonesia@eufodder.com, serta ajak rekan-rekan Anda untuk berlangganan buletin kami di https://eufodder.com/id/id-contact-us/.

[1] PLANT GENETIC RESOURCES OF GRASSLAND AND FORAGE SPECIES, FAO, diakses pada Agustus 2026
[2] Report From The Commission To The Council On The Dried Fodder Sector, diakses pada Agustus 2026
[3] European Forage association of forage processors – European Forage, CIDE, diakses pada Agustus 2026
