
Menurut statistik terbaru, ekspor pakan UE ke Jepang, Indonesia, Taiwan, dan Vietnam mencapai sekitar 48.545 ton antara Januari dan Juni 2026, dibandingkan dengan 44.157 ton di periode yang sama pada 2025, atau meningkat sebesar 9,9%.
Nilai total ekspor meningkat dari sekitar €10,95 juta menjadi €11,61 juta, yang menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 5,9%. Namun, di balik peningkatan secara keseluruhan tersebut, kinerja masing-masing pasar menunjukkan variasi yang cukup besar.

Indonesia

Sumber: Eurostat, olahan data sendiri
Bagi pasar yang masih mengembangkan impor pakan dari Eropa, pergeseran dari satu pemasok dominan menuju keterlibatan beberapa negara UE merupakan perkembangan yang patut diperhatikan.
Ekspor UE mencapai sekitar 1.045 ton selama enam bulan pertama tahun ini, meningkat 41,6% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Nilai ekspor meningkat lebih cepat, yaitu sebesar 72,8% menjadi sekitar €365.000. Namun, titik awal yang sangat rendah juga perlu dipertimbangkan.
Komposisi pemasok dari Eropa telah berubah secara signifikan.
Pada paruh pertama 2025, Italia menyumbang sekitar 83,6% ekspor pakan UE ke Indonesia. Pada 2026, Spanyol menjadi pemasok utama, dengan ekspor sekitar 647 ton atau 61,9% dari total ekspor. Lithuania menyusul dengan sekitar 16,2%, Portugal sebesar 10,4%, sementara pangsa Italia turun menjadi sekitar 6,9%.
Produk dalam bentuk bal tetap mendominasi pasar, dengan pangsa sekitar 92,6% dari total volume ekspor UE. Pelet masih relatif terbatas, yaitu sebesar 7,4%, meskipun angka ini lebih tinggi dibandingkan 3,3% yang tercatat setahun sebelumnya.
Jepang:

Sumber: Eurostat, olahan data sendiri
Selama paruh pertama 2026, ekspor mencapai sekitar 46.215 ton, meningkat 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ekspor sedikit meningkat, bertambah 5,8% menjadi sekitar €10,86 juta.
Italia dan Spanyol tetap menjadi dua pemasok utama dari Eropa, meskipun kesenjangan di antara keduanya semakin menyempit.
Italia menyumbang sekitar 46,6% dari volume ekspor UE ke Jepang, dibandingkan 51,3% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, Spanyol meningkatkan pangsanya dari 37,8% menjadi 41,5%. Dalam hal nilai, ekspor Spanyol bahkan sedikit melampaui ekspor Italia selama paruh pertama 2026.
Komposisi produk juga mengalami perubahan. Pada 2025, pelet menyumbang sekitar 52% dari volume yang diekspor ke Jepang. Pada 2026, pangsanya turun menjadi sekitar 48,5%, sementara produk dalam bentuk bal menyumbang 51,5%.
Taiwan:
Due to the ban on Spain’s exports due to African Swine Fever EU fodder trade nearly comes to a standstill. During the period studied in 2026, however, recorded exports fell to only around 2.4 tons, with a total value of approximately €5,900. Almost all of these exports originated from the Netherlands, while no significant exports of alfalfa meal and pellets were recorded.
Akibat larangan ekspor dari Spanyol karena Wabah Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF), perdagangan pakan UE hampir terhenti. Namun, selama periode yang diteliti pada 2026, ekspor yang tercatat turun menjadi hanya sekitar 2,4 ton, dengan nilai total sekitar €5.900. Hampir seluruh ekspor tersebut berasal dari Belanda, sementara tidak tercatat adanya ekspor alfalfa meal dan pelet dalam jumlah yang signifikan.
Vietnam:

Sumber: Eurostat, olahan data sendiri
Ekspor pakan UE meningkat dari hanya 243 ton selama paruh pertama 2025 menjadi sekitar 1.282 ton pada 2026, yang menunjukkan pertumbuhan luar biasa sebesar 427%. Nilai ekspor meningkat dari sekitar €66.000 menjadi sekitar €376.000, atau naik sebesar 474%.
Pada 2025, Spanyol menyumbang sekitar 70% volume ekspor UE ke Vietnam, sementara Italia menyumbang sekitar 30%. Pada 2026, ekspor Italia melonjak menjadi sekitar 1.060 ton, sehingga memberikan Italia pangsa pasar sebesar 82,6%. Hal ini menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar tersebut.
Komposisi produk juga semakin beragam. Pelet menyumbang sekitar 81% ekspor UE ke Vietnam pada paruh pertama 2025. Pangsa tersebut turun menjadi 45,7% pada 2026, sementara produk dalam bentuk bal meningkat dari 19% menjadi 54,3%.
Dengan demikian, pertumbuhan Vietnam bukan sekadar persoalan peningkatan volume. Pertumbuhan tersebut juga mencerminkan semakin beragamnya produk hijauan yang masuk ke pasar.
Perkembangan di Asia ini berlangsung ketika sektor pakan Eropa sendiri menghadapi lingkungan produksi yang terus berubah.
Bagi produsen dan pengekspor Eropa, peluang di masa depan tidak hanya akan bergantung pada peningkatan volume. Akses pasar, pasokan yang andal, diversifikasi produk, serta kemampuan untuk merespons kebutuhan nutrisi dan operasional spesifik peternakan di setiap pasar akan menjadi semakin penting.
Seiring dengan terus berkembangnya industri peternakan di Asia, kemampuan Eropa untuk menyediakan produk hijauan yang konsisten, dapat ditelusuri, dan diproses secara profesional dapat tetap menjadi keunggulan penting di pasar-pasar yang semakin menempatkan kualitas ransum dan keandalan pasokan sebagai hal yang penting.
Kampanye “Pakan Ternak Dehidrasi UE dari Spanyol dan Italia,” yang didanai bersama oleh Uni Eropa dan dipromosikan oleh FILIERA dan AEFA, terus berbagi wawasan mengenai pakan ternak dehidrasi UE berkualitas tinggi, praktik keberlanjutan, dan berbagai kasus penerapan di dunia nyata.
Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pakan ternak dehidrasi UE, silakan kunjungi situs web kami: www.eufodder.com atau hubungi kami melalui email indonesia@eufodder.com, serta ajak rekan-rekan Anda untuk berlangganan buletin kami di https://eufodder.com/id/id-contact-us/.

