
Industri susu Indonesia diprediksi akan memainkan peran yang semakin penting dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan pemerintah, menyusul pengumuman Kementerian Pertanian (Kementan) mengenai inisiatif baru yang dikenal sebagai Dapur Susu Indonesia (DASI)[1].
Program ini dirancang untuk memperkuat rantai pasokan susu dalam negeri dengan mendirikan fasilitas pengolahan susu skala kecil yang melayani masyarakat setempat dan memasok susu secara langsung ke unit-unit layanan MBG. Alih-alih hanya berfokus pada peningkatan produktivitas sapi perah, DASI bertujuan untuk membangun ekosistem sapi perah yang lebih terintegrasi. Inisiatif ini membantu petani memahami permintaan masa depan dari MBG dengan lebih baik, sekaligus membuat pengumpulan dan pengolahan susu menjadi lebih efisien melalui fasilitas yang terdesentralisasi.
Menurut Kementan, fasilitas DASI dapat didirikan dengan investasi kurang dari Rp 5 miliar dan diharapkan dapat memasok antara lima hingga sepuluh pusat layanan gizi di wilayah sekitarnya. Model ini bertujuan agar pengolahan susu lebih mudah diakses oleh koperasi, kelompok tani, dan investor swasta, sekaligus menciptakan ekosistem susu yang lebih desentralisasi.[2]
Inisiatif ini muncul seiring upaya Indonesia untuk memenuhi permintaan susu yang tumbuh pesat akibat program MBG yang telah dibahas dalam buletin sebelumnya. Pedoman saat ini mengharuskan susu dimasukkan secara rutin ke dalam rencana makan, sehingga menciptakan sumber permintaan baru yang signifikan bagi sektor susu. Pejabat pemerintah memandang DASI sebagai cara untuk menghubungkan peternak sapi perah lokal secara langsung dengan pasar yang terjamin, sekaligus mendorong investasi dalam kapasitas pengumpulan, pasteurisasi, dan pengolahan susu.
Selain memasok susu ke sekolah dan masyarakat, program ini juga bertujuan untuk mendorong perluasan peternakan sapi perah di luar kawasan produksi tradisional; dengan menciptakan pusat pengolahan lokal yang menawarkan peluang penyerapan yang jelas. Pemerintah berharap dapat mengurangi hambatan masuk bagi produsen susu baru dan mempercepat pertumbuhan produksi susu dalam negeri. Namun, ambisi untuk memperluas konsumsi susu melalui MBG dan DASI juga menghadapi tantangan yang telah lama dilalui industri susu Indonesia: produksi dalam negeri masih belum mencukupi untuk memenuhi permintaan nasional. Para pengamat industri mencatat bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada produk susu impor dan peningkatan produksi susu lokal akan membutuhkan investasi berkelanjutan dalam bidang ternak sapi perah, produktivitas peternakan, kualitas pakan, serta infrastruktur rantai pasokan[3]. Akibatnya, inisiatif seperti DASI dipandang tidak hanya sebagai solusi pengolahan, tetapi juga sebagai katalisator bagi pengembangan yang lebih luas di seluruh rantai nilai produk susu.
Mengapa Ini Penting bagi Pemasok Pakan Ternak dan Pakan Hijauan
Peluncuran Dapur Susu Indonesia (DASI) tidak hanya diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengumpulan dan pengolahan susu, tetapi juga dapat mempercepat permintaan akan peningkatan produksi susu di seluruh Indonesia. Seiring dengan perluasan program MBG yang menciptakan pasar susu segar yang lebih besar dan stabil, peternak sapi perah akan menghadapi tekanan yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi guna memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Meskipun investasi dalam infrastruktur pengolahan merupakan langkah penting, peningkatan produksi susu pada akhirnya akan bergantung pada perbaikan di tingkat peternakan. Kualitas pakan tetap menjadi salah satu faktor paling signifikan yang memengaruhi produksi susu, kesehatan ternak, dan kinerja produksi secara keseluruhan. Akibatnya, pertumbuhan sektor ini kemungkinan akan mendorong minat yang lebih besar terhadap solusi pakan ternak yang andal dan berkualitas tinggi yang dapat membantu peternak memaksimalkan produktivitas.
Hal ini menghadirkan peluang berharga bagi pakan ternak dehidrasi yang diproduksi di UE. Dikenal karena profil nutrisinya yang konsisten, standar jaminan kualitas, dan ketersediaannya sepanjang tahun, pakan ternak dehidrasi dapat mendukung peternak sapi perah yang berupaya meningkatkan efisiensi pakan ternak dan meningkatkan produksi susu. Seiring upaya Indonesia untuk menutup defisit susu domestik dan membangun industri susu yang lebih mandiri, input pakan berkualitas tinggi diperkirakan akan menjadi bagian yang semakin penting dari solusi tersebut.
Seiring program DASI beralih dari tahap konsep ke implementasi, inisiatif ini akan diawasi dengan cermat oleh para pemangku kepentingan di seluruh industri susu. Jika berhasil, program ini dapat membantu menciptakan ekosistem susu yang lebih terintegrasi, yang menghubungkan petani, pengolah, koperasi, dan program nutrisi, sekaligus mendukung tujuan Indonesia yang lebih luas untuk meningkatkan swasembada produksi susu.
Kampanye “Pakan Ternak Dehidrasi UE dari Spanyol dan Italia”, yang didanai bersama oleh UE dan dipromosikan oleh FILIERA dan AEFA, secara berkelanjutan membagikan wawasan mengenai pakan ternak dehidrasi UE berkualitas tinggi, praktik keberlanjutan, serta kasus penerapan di dunia nyata.
Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pakan ternak dehidrasi UE, silakan kunjungi situs web kami: www.eufodder.com atau hubungi kami melalui email indonesia@eufodder.com, serta ajak rekan-rekan Anda untuk berlangganan buletin kami di https://eufodder.com/id/id-contact-us/.

[1] Kementan Siapkan Dapur Susu Indonesia, Perkuat Pasokan Susu Program MBG. TB News, diakses pada Juni 2026
[2] Kementan Usul Bangun Dapur Khusus Pasok Susu ke MBG, Modalnya Rp 5 M. diakses pada Juni 2026
[3] Ambisi Susu untuk MBG Terbentur Defisit Produksi Nasional. BINIS INDONESIA, diakses pada Juni 2026
